Latihan Menulis #1: Belajar Merangkai Kalimat dari Kata “Angin”

0

Foto eyang.jpg

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa kabar sahabat steemian yang baik? Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah Swt, tetap sehat, dan lancar menjalankan rutinitas sehari-hari.

Hari ini saya kembali ingin mengajak anda belajar menulis, terutama kepada para pemula. Saya akan mengajak anda berlatih menulis hanya dengan mengandalkan satu kata, yaitu “angin”. Melalui satu kata ini, saya akan mengajak anda mengeksplorasi kemampuan anda menulis dengan menyusun kalimat yang berhubungan dengan kata tersebut.

Supaya permainan menyusun kalimat ini seru, saya mencoba mencari beberapa kata yang berhubungan dengan kata “angin”, yaitu:

  1. Masuk angin
  2. Di atas angin
  3. Angin-anginan
  4. Buang angin
  5. Minyak angin

Sebenarnya kita bisa membuat beragam tulisan dari kata-kata tersebut. Kita bisa membuatnya dalam bentuk news, feature, artikel, atau pun cerpen. Namun, kali ini saya akan mengajak anda untuk mencoba membuatnya dalam bentuk sebuah artikel dan cerpen yang di dalamnya mengandung semua unsur kata-kata tersebut.

Contoh tulisan 1 (versi artikel):

Seseorang yang ingin menjadi penulis sukses harus memiliki semangat yang tinggi. Dia harus rajin berlatih dan tidak boleh angin-anginan. Kalau malas, maka hasilnya tidak akan maksimal.

Bisa dibayangkan kalau seorang penulis jarang berkarya. Bagaimana mungkin kualitas tulisannya meningkat dan dihargai orang lain. Padahal, kalau tulisan kita bagus tentu akan dihargai orang. Kalau mau bekerja sama dengan penerbit, posisi tawar kita pun meningkat dan kita akan berada di atas angin.

Berlatih menulis diperlukan kesabaran. Selain itu penulis juga harus pandai-pandai menjaga kesehatannya. Jangan sampai karena terlalu asyik menulis, waktu makan jadi terlambat, sehingga akhirnya masuk angin. Kalau sudah begini, pekerjaan menulis pun jadi terhambat.

Sudah menjadi kebiasaan orang yang tinggal di kampung, kalau ada orang yang masuk angin suka di kerok menggunakan kerokan benggol (uang koin lama peninggalan zaman Belanda) dan minyak makan yang diberi bawang merah.

Biasanya badan dikerok sampai warna kulit menjadi merah. Kalau sudah bisa buang angin, itu pertanda penyakitnya sudah sembuh dan badan terasa segar. Namun, cara orang kota beda lagi. Kalau mereka masuk angin, cukup diolesi minyak angin di badannya, tidak menggunakan kerokan.

Contoh tulisan 2 (versi cerpen):

Pagi itu Romli bertandang ke rumah Andri, sahabat karibnya. Dia tidak tahu kalau saat itu sahabatnya sedang menderita sakit.

“Assalamu’alaikum,” ucap Romli sambil mengetuk pintu rumah Andri.

“Waalaikum salam. Maaf, dengan siapa ya?” jawab seorang wanita berhijab, sambil mengeluarkan separuh badannya dari balik pintu berbahan kayu.

“Saya Romli, temannya Romli Mbak,” kata Romli dengan ramah.

“Maaf Mas, suami saya sedang sakit. Semalam dia habis ronda. Kelihatannya masuk angin. Sejak pagi tiduran aja di kasur. Silakan masuk Mas Romli,” jawab wanita itu yang ternyata istrinya Andri.

Romli dan Andri sahabat lama yang sudah sepuluh tahun berpisah. Mereka berpelukan saling melepas rindu. Lalu Romli mengeluarkan minyak angin dari balik saku bajunya.

“Kata istrimu kamu masuk angin ya? Kebetulan Aku bawa minyak angin. Coba kamu oleskan diperutmu. Insya Allah cepat sembuh,” ujar Romli kepada sahabat SMA-nya itu.

“Gak usah repot-repot Dri, aku sudah baikan kok. Tadi Aku sudah dikerok oleh istriku. Biasalah, dikampung mah gak pake minyak angin Dri. Kalau masuk angin begini biasanya cuma dikerok pakai minyak makan dan bawang merah. Nanti juga sembuh kalau Aku sudah buang angin,” kata Andrie sambil sedikit tersenyum.

Tak lama kemudian istri Andri membawakan segelas kopi dan dihidangkan persis dihadapanya. Aroma kopi itu begitu menyengat hidungnya, membuat Romli ingin segera mencicipinya.

“Silakan diminum Mas.” Istri Andri mempersilakan Romli mencicipi kopi hangat itu.

“Terima kasih Mbak,” Jawab Romli singkat.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Romli untuk menyeruput kopi hangat tersebut. Sambil menikmati kopi kegemarannya, ingatannya kembali jauh berkelana sepuluh tahun silam. Saat itu posisi Andri di atas angin. Dia sudah bekerja di sebuah perusahaan besar, sementara Romli masih menganggur.

Kini situasi terbalik. Ternyata Andri baru saja menganggur karena habis dipecat dari pekerjaannya. Penyebabnya karena bekerja kurang serius. Menurut istrinya, Andri orangnya angin-anginan, kadang rajin, tetapi kadang juga malas dan tidak masuk kerja. Wajar saja kalau konditenya turun sehingga dipecat dari tempatnya bekerja.

Setelah satu jam bersilahturami, Romli pun pamit dan akhirnya mereka berpisah.

Demikian sharing saya hari ini. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat.

Salam pena kreatif

https://steemit.com/indonesia/@jharyadi/latihan-menulis-belajar-merangkai-kalimat-dari-kata-angin

Share.

About Author

Leave A Reply